Lompat ke konten

Sejarah Candi Borobudur: Penjelasan, Pendirian, dan Asal Usulnya

Candi Borobudur merupakan salah satu kejaiban dunia karena kemegahannya yang sulit ditandingi. Ada beberapa versi sejarah candi ini, umumnya banyak yang menyetujui bahwa candi bercorak budha terbesar di dunia tersebut di bangun oleh Samaratungga, Raja Kerajaan Mataram Kuno. Namun, selain itu ada pula versi lain yang mengklaim bahwa candi tersebut peninggalan Nabi Sulaiman. Terlepas dari perbedaan tersebut, yang jelas peninggalan tersebut sangatlah unik dan patut dilindungi keberadaannya. Karena dengan adanya benda peninggalan, sebuah bangsa bisa menelusuri sejarah masa lampau meskipun sulit dibuktikan secara nyata.

Pada posting kali ini Web Sejarah akan mencoba memberikan ulasan mengenai sejarah candi Borobudur dilihat dari versi umum dan versi Islam.

CATATAN: Ini sekedar ulasan untuk menambah referensi saja, mohon jangan dijadikan kontroversi.

Seluruh masyarakat Indonesia pasti sudah tahu tentang salah satu peninggalan sejarah yang pernah masuk dalam 7 keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur. Untuk anda yang belum pernah mengunjungi candi ini, ada baiknya anda mengetahui sejarah Candi Borobudur lengkap beserta pendapat seorang ahli yang mengungkapkan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman.

Sampai saat ini Candi Borobudur masih sangat ramai dikunjungi para wisatawan, entah itu wisatawan lokal ataupun wisatawan mancanegara. Tetapi banyak dari para wisatawan yang tidak tahu mengenai sejarah Candi Borobudur. Apalagi saat ini ada sebuah penelitian bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan dari Nabi Sulaiman.

Candi Borobudur adalah candi terbesar di seluruh dunia, sehingga banyak wisatawan mancanegara yang berwisata untuk melihat candi terbesar di dunia. Candi ini memiliki sejuta keindahan dan keunikan yang tidak ada duanya. Letaknya yang strategis membuat jumlah wisatawan yang datang ke candi ini semakin bertambah setiap tahunnya.

Sejarah Candi Borobudur

Letak Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Jawa tengah tepatnya di Kecamatan Borobudur, Magelang Jawa Tengah , atau 3 km dari Kota Mungkid Magelang. Candi ini berlokasi  di sebelah barat daya Semarang kurang lebih 100 km, sebelah barat Surakarta kurang lebih 86 km dan sebelah barat laut Yogyakarta kurang lebih 40 km.

Bentuk dari candi ini adalah stupa yang terdiri dari 6 teras  berbentuk bujur sangkar  dan diatas teras terdapat 3 pelataran melingkar. Pada dindingnya dihiasi relief dengan jumlah yang begitu banyak yaitu 2.672 relief. Stupa terbesar terletak di bagian tengah sekaligus untuk memahkotai bangunan candi ini.

Tahap Pembangunan Candi Borobudur

Para ahli arkeolog menduga bahwa pembangunan candi ini berawal dari stupa paling besar yang memahkotai bangunan ini. Diduga pada saat itu arsitek Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa paling besar dan menggantinya dengan tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Berikut adalah perkiraan dari tahap pembangunan Candi Borobudur

Baca juga Sejarah Kemerdekaan Indonesia

1. Tahap Pertama

Tahun pembangunan candi ini tidak diketahui secara pasti, diperkirakan tahap pertama pembangunan candi ini pada tahun 750 sampai 850 M. Candi ini dibangun di atas bukit yang diratakan dan pelatarannya diperluas. Bangunan ini tidak semuanya menggunakan batu andesit, bagian bukit dipadatkan dan ditutup oleh lapisan batu.

Sisa bagian bukit ditutup dengan struktur batu yang berlapis-lapis. Pada mulanya dibangun tata susun bertingkat, seperti piramida berundak. Akan tetapi rancangan itu diubah, menjadi tiga undakan pertama yang menutup struktur  asli piramida berundak. Bukti dari rancangan yang diubah adalah ditemukanya tata susun yang dibongkar.

2. Tahap Kedua

Pada pembangunan tahap kedua ini yaitu penambahan dua undakan persegi. Selain itu juga ditambahkan satu pagar langkan dan satu undak melingkar. Kemudian pada undakan melingkar langsung dibangun stupa tunggal yang paling besar.

3. Tahap Ketiga

Pada tahap ini terdapat perubahan rancangan pembangunan, yaitu undak lingkaran dengan stupa besar dibongkar dan diganti dengan tiga undak melingkar. Pada setiap undakan lingkaran dibangun stupa-stupa kecil yang disusun melingkar kemudian stupa paling besar berada di tengah.

4. Tahap Keempat

Untuk tahap ke empat ini terdapat perubahan kecil pada bangunan ini seperti penyempurnaan relief. Selain itu juga ada penambahan pagar lankan terluar. Perubahan lainnya seperti perubahan  tangga dan pelengkung atas gawang pintu dan pelebaran ujung kaki.

Sejarah Borobudur versi umum

Candi Borobudur adalah sebuah candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi tersebut disetujui sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Pada tanggal 13 Desember 1991, Candi Borobudur diberi predikat sebagai Warisan Budaya Dunia dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) World Heritage Committee.

Secara detail, letak Candi Borobudur adalah di desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letaknya sangat indah dipandang mata, di sebelah timur batasi dengan Gunung Merapi dan Merbabu, sebelah utara Gunung Sindoro dan Sumbing, sedangkan di selatan pegunungan Menoreh.

Candi tersebut diapit dua sungai, yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo. Kemegahannya patut dikagumi, karena bangunan candi tersusun dari batuan andesit yang membuat semua bangsa di dunia penasaran bagaimana sejarah pembangunannya.

Melihat kemegahan candi, banyak yang terbersit pertanyaan siapa sebenarnya yang membangun Candi Borobudur?

Dalam catatan sejarah umum Candi Borobudur dikaitkan dengan bukti sejarah terkait dengan jaman kerajaan yang pernah berdiri di wilayah candi tersebut. Konon, mengenai siapa sebenarnya yang membangun Candi Borobudur adalah Raja Samaratungga dari Kerajaan Mataram Kuno.

Pendapat bukan tanpa alasan, karena merujuk adanya penemuan Prasasti Karangtengah (Parasasti Kayumwungan) dan Prasasti Tri Tepusan.

Menurut website resmi Kemendikbud, interpretasi sejarawan J.G. de Casparis menyebutkan bahwa pendiri Candi Borobudur adalah Raja Samaratungga. Sedangkan pendapat lain, menurut arkeolog Indonesia yang terlibat langsung dalam pemugaran Candi Borobudur, Soekmono menginterpretasikan bahwa bangunan yang disebut Jinalaya yang dibangun oleh Raja Samaratungga dalam Prasasti Karangtengah di mana dugaan merujuk pada Candi Borobudur.

Lalu siapa Samaratungga

Samaratungga adalah seorang raja Mataram Kuno keturunan dari Dinasti Syailendra yang memerintah dengan corak Buddha. Ia memerintah menggantikan ayahnya yang bernama Sri Dharmatungga.

Masa pemerintahan Dinasti Syailendra diperkirakan masa keemasan kerajaan tersebut dengan perkembangan di berbagai bidang, seperti agama, politik, ilmu pengetahuan, budaya, kesenian, dan sosial.

Bagaimana candi Borobudur di bangun?

Konon, pembangunan Candi Borobudur tidak dilakukan secara langsung, namun secara bertahap dan bergotong royong antar rakyat pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra yang menganut aliran Buddha Mahayana.

Ini terlihat dari susunan tingkatannya yang terdiri dari 3 tingkat, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Dalam proses pembangunan candi diperkirakan mulai dilakukan dengan meratakan tanah, baru kemudian menyusun struktur batuannya secara bertahap.

Sejarah Candi Borobudur Dan Nabi Sulaiman

Belum banyak yang tahu bahwa ternyata Candi Borobudur adalah peninggalan dari Nabi Sulaiman. Tertulis dalam Al-Quran Surah Saba ayat 13 yang mempunyai arti, “Golongan jin itu membuat untuk Nabi Sulaiman, apa yang ia kehendaki, dari bangunan-bangunan yang tinggi dan patung-patung  dan pinggan-pinggan hidangan yang luas seperti kolam”.

Baca juga Sejarah Sumpah Pemuda

Candi Borobudur dibangun oleh tentara Nabi Sulaiman dan juga bangsa jin  yang  dalam Al-Quran disebut Arsy Ratu Saba. Ratu Balqis atau Princes Of Saba sering disebut Ratu Boko oleh masyarakat Jawa. Sementara patung – patung di Candi  ini lebih dikenal sebagai patung budha padahal patung tersebut merupakan gambaran dari bidadari surga.

Menurut  seorang peneliti yang bernama KH Fahmi Basya, bahwa kisah Nabi Sulaiman ini sangat erat berkaitan dengan tanah Jawa atau Negeri Saba. Salah satu bukti bahwa candi ini adalah peninggalan Nabi Sulaiman adalah bentuk reliefnya.

Pada relief candi ini banyak yang menggambarkan kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Quran seperti kisah Nabi Yunus. Relief lain juga menggambarkan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba sebagaimana dikisahkan di dalam AL-Quran. Selain itu banyak simbol-simbol  Islam yang ditemukan di Candi Borobudur.

Sejarah Candi Borobudur Versi Islam

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu saba disebutkan dalam Al-Quran surah An-Naml  ayat 15-44 , surah Saba’ ayat 12-16 dan surah Al-Anbiya ayat 78-81. Berikut adalah beberapa bukti bahwa candi ini adalah peninggalan Islam yang berada di Negeri Syailendra Pulau Jawa :

Masa lahirnya Agama Islam sama dengan masa berdirinya Candi Borobudur, yaitu akhir abad ke 6 atau awal abad ke 7. Pada saat itu Nabi Muhammad merekomendasikan kepada umatnya untuk menuntuk ilmu sampai ke Negeri Syain. Hal ini pasti didasari dengan pengetahuan yang seumur dengan Nabi Muhammad.

Tidak mungkin beliau menyarankan untuk menuntut ilmu kepada seseorang yang lahir di Negeri Syain 1500 tahun lagi. Ataupun tidak mungkin untuk menuntut ilmu kepada seseorang yang lahir di Negeri Syain 1500 tahun yang lalu. Hal ini menguatkan bahwa yang dimaksud dengan Negeri Syain adalah Negeri Syailendra Pulau Jawa bukan China.

Perlu anda ketahui bahwa candi ini adalah miniatur dari Al-Quran. Borobudur bercerita tentang hal-hal yang terdapat dalam Al-Quran tetapi dengan cara yang berbeda. Al-Quran bercerita dengan bahasa syair sedangkan Borobudur bercerita melalui relief-relief yang terdapat di dinding candi.

Baca juga Sejarah Pancasila

Pada saat lahirnya Agama Islam keadaan sosial di Negeri China sedang kacau balau. Mustahil untuk Nabi Muhammad merekomendasikan kepada umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke Negeri yang sedang kacau balau. Dan pada saat itu Negeri Syailenda sedang dalam keadaan makmur dan sejahtera.

Negeri Syailendra saat itu memiliki kebudayaan yang lebih unggul dariada Negeri China. Bagaimana tidak, Negeri Syailendra dapat membangun sebuah bangunan dalam kurun waktu yang cukup lama. Diketahui umur batu pada dasar Candi Borobudur ini memiliki selisih 104 tahun lebih tua dengan batu yang terdapat di puncak candi.

Selain itu untuk pembangunan candi ini memerlukan tenaga yang tidak sedikit dan membutuhkan perencanaan yang benar-benar matang. Tanpa perencanaan dan pengetahuan yang matang tidak mungkin candi ini dapat berdiri sampai sekarang. Struktur bangunan candi yang besar membutuhkan pengetahuan teknik bangunan yang cukup rumit.

Negeri China dan arab terhubung lewat darat, dengan hanya mengendarai unta atau kuda saja sudah dapat sampai. Hal itu tidak menggambarkan kesulitan dan perjuangan dalam menuntut ilmu. Sedangkan Negeri Syailendra terdapat di Pulau Jawa, untuk menuntut ilmu sampai disini harus menempuh perjalanan yang jauh dan mengarungi lautan yang luas.

Penjelasan di atas adalah tentang sejarah Candi Borobudur versi Islam. Masa lalu memang penuh dengan teka-teki, banyak yang mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan dari Dinasti Syailendra tetapi ada juga penelitian yang mengatakan bahwa candi ini sangat erat kaitannya dengan Islam dan Nabi Sulaiman.

Namun hal itu sebaiknya tidak perlu diperdebatkan panjang. Terlepas dari kebenaran sejarah Candi Borobudur versi Islam ini, hal yang paling penting adalah kita sebagai warga Indonesia tentunya harus merasa sangat bangga karena memiliki salah satu dari keajaiban dunia.

Demikian ulasan Sejarah Candi Borobudur sebagai tambahan pengetahuan, semoga menjadi tambahan wawasan yang bermanfaat.