Lompat ke konten

Rahasia Kunci Kemerdekaan Indonesia tersirat dalam Kitab Kuno Kerajaan Majapahit

Bahan Renungan HUT RI ke-77, 17 Agustus 2022. Siapa sangka salah satu kunci kemerdekaan Indonesia ada dalam kitab Kuno dari zaman Majapahit pada tahun 1945 perang dunia 2 berujung kemenangan sekutu dan kekalahan Jepang di Asia Pasifik. Tiga bulan sebelum bom atom Hiroshima, BPUPKI Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia terbentuk mereka berkejaran dengan waktu karena Belanda yang membonceng sekutu dapat merebut kembali Nusantara jika wilayah ini dianggap pampasan perang dari Jepang

Tak ada jalan lain Indonesia harus segera berdaulat, namun menyusun konsep negara sebesar dan seberat Indonesia tidaklah mudah. Untungnya Kitab Sutasoma dari abad ke-14 memberi kita semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus Kunci keberhasilan kemerdekaan kita, dan kisah di dalamnya begitu Epic..Sayangnya tak banyak yang tahu. Yuk Kita gali bersama-sama

Dunia dilanda kekacauan ketika bangsa raksasa menebar petaka dalam kakawin Sutasoma biang keroknya adalah Suciloma, seorang raksasa pemuja Siwa Bhairawa.

Untuk mengalahkannya Sang Buddha pun menjelma ke dunia. Karena welas asih Sang Buddha Suciloma diampuni asal ia tidak lagi membunuh manusia. Di sisa umurnya Suciloma hidup Saleh. Ia terlahir kembali menjadi Sudanda, Pangeran kerajaan Ratna Kanda yang tekun memuja Buddha.

Suatu hari muncullah Dewa Rudra yang menganugerahinya kesaktian luar biasa, bahkan menjadikannya manifestasi Dewa Rudra alias Dewa Siwa di dunia.

Merasa tak terkalahkan, watak angkara nya pun muncul. Suatu ketika hidangan untuk Sudanda ludes dilahap anjing, Dan sebagai gantinya sang juru masak menyajikan daging manusia. Sejak itu Sudanda kecanduan daging manusia dan berubah menjadi raksasa. Seisi kerajaan mengusirnya karena takut.

Raja sudah anda mengungsi ke Lereng Semeru dan memuja Bhairawa dengan ritual makan daging manusia. Ia semakin kuat hingga menjadi raja para raksasa. dan Asura. Setelah itu kerajaan Ratna Kanda direbutnya kembali. dan namanya menjadi Purusada atau pelahap manusia.

Kahyangan diserang dan para dewa gentar, berbagai negeri pun dihancurkan karena ambisinya menumbalkan 100 Raja bagi Dewa pujaannya sang Dewa Kala. Siapakah yang mampu menghadapinya.

Lahirnya penyelamat dunia

Karena kasih-nya kepada dunia yang diambang binasa bodhisatwa menjadi manusia dan terlahir sebagai pangeran tampan dari hastina bernama Sutasoma. Kehidupan Sutasoma bergelimang kemewahan dan nikmat duniawi. Namun meski berulangkali dibujuk menjadi raja, Sutasoma bersikukuh untuk menguak dan menjalani takdirnya sendiri.

Pada suatu malam ia menyelinap keluar istana dan mulai mengembara. Perjalanan spiritualnya dibuka dengan ritual Tantra di kuburan dan berakhir di pertapaan Dewa Siwa di puncak gunung Semeru. Ya.. orang Jawa kuno juga kenal kuburan ini buktinya.

Dalam perjalanan itu Sutasoma disergap gajah muka yang ganas, lalu seekor naga. Namun Sutasoma malah menjadikan keduanya murid.

Ia juga bertemu harimau betina yang kelaparan dan hendak memakan anaknya sendiri. Sutasoma yang jatuh iba menyerahkan dirinya untuk dimakan harimau. Kematian Sutasoma membuat sang harimau trenyuh dan menyesal. Beruntung muncullah Dewa Indra yang menghidupkan kembali Sutasoma, dan bersama dengan gajah muka dan naga. Harimau itu pun menjadi murid Sutasoma.

Nah apa yang terjadi selanjutnya?

Sutasoma mencapai kesadaran

Ketika bertapa di puncak Semeru, Sutasoma digoda para bidadari yang cantik jelita, bahkan Dewa Indra pun ikut menyamar menjadi Bidadari untuk menguji keteguhan hatinya. Namun upaya mereka gagal, karena Sutasoma menampakkan wujud aslinya sebagai Buddha wairocana yang mahatinggi.

Para dewa pun menyembah-nya dalam sekejap Sutasoma kembali kerupa manusia dan menyadari misinya. Begitu turun gunung Sutasoma bertemu dengan sepupunya, rajadesa bahu dengan riangnya Raja Dasa Bahu.

Dasa Bahu meminta Sutasoma menikahi adik perempuannya yang cantik, yakni Candrawati, karena keduanya sudah dijodohkan sejak kecil. Aslinya Dewi Chandrawati adalah titisan Locana, pasangan wairocana Sang Buddha tertinggi.

Perkawinan Sutasoma dan Candrawati di taman Ratnalaya yang adalah manifestasi penyatuan energi maskulin dan feminim juga dipahatkan pada relief candi Jawi di Pasuruan Jawa Timur.

Sementara Sutasoma mereguk manisnya pernikahan kekuatan jahat yang dipimpin Purusada semakin mencengkram dunia. Purusada bahkan berhasil membunuh titisan dewa Wisnu yakni Raja Jaya Wikrama dari kerajaan Singgala. Ia juga berhasil menawan 100 raja sebagai tumbal untuk Dewa Kala.

Namun Dewa Kala rupanya tidak puas, ia menuntut juga nyawa Sutasoma yang telah bertahta sebagai raja Astina, maka terjadilah perang besar ketika bala tentara Purusada menggempur Hastina. Hastina dan para sekutunya menahan serangan itu dibawah komando Dasa Bahu dari Kasi sepupu Sutasoma.

Tapi sesuatu membuat mereka terhenyak

Kebaikan kalah melawan kejahatan

Dalam pertempuran besar tersebut, Purusada berubah menjadi dewa Rudra atau Dewa Siwa untuk menghadapi Raja Dasa Bahu yang merupakan Purta Dewa Brahma. Putra Dewa Brahma. Dengan mudah Raja Dasa Bahu dikalahkannya dan dipenggal.

Ingat, titisan dewa Wisnu telah dibunuh Purusada. Sekarang Putra Dewa Brahma pun ditumpasnya. Saktinya enggak kaleng-kaleng, tewasnya raja Dasa Bahu membuat prajurit Hastina kocar-kacir Balatentara Purusada semakin merajalela, mereka membawa mahapralaya atau kehancuran total atas dunia.

Pada momen itulah muncul Sutasoma tanpa tentara hanya diiringi Brahmana Syiwa dan Buddha, artinya seluruh tokoh agama mengesampingkan perbedaan dan bersatu menghadapi angkara. Purusada semakin blingsatan, diikrarkannya berbagai kesaktian untuk menyerang Sutasoma diantaranya hujan api hunjaman senjata magis.

Namun oleh Sutasoma semua itu diubah menjadi taburan bunga dan air amerta yang menghidupkan kembali para korban. Gak pakai lama purusada segera berubah menjadi Kalagnirudra, sesosok wujud Siwa yang paling mengerikan dan sanggup menelan tiga alam.

Yang terjadi berikutnya akan mengejutkan Anda.

Senjata rahasia Bhinneka Tunggal Ika

Para dewa turun memohon Dewa Siwa untuk menghentikan murkanya demi keselamatan dunia. Mereka mengingatkan bahwa Sutasoma adalah jelmaan Buddha tidaklah mungkin kekuatan Siwa menghancurkan Buddha, karena pada hakekatnya keduanya sama, bahwa wujud Buddha dan Siwa memang berbeda, namun bagaimana bisa mengenali perbedaan dalam selintas pandang.

Mereka memang berbeda-beda, namun hakekatnya sama Bhinneka Tunggal Ika. Karena tiada kebenaran yang mendua.

Sayangnya nasihat para dewa tidak mempan meredam amarah Kalagnirudra. Sutasoma pun mengerahkan kesaktiannya dan mengeluarkan senjata kristal yang menembus wujud Kalagnirudra.

Seketika sang Rudra dilingkupi kedamaian, karena ia merasakan Welas Asih Sang Buddha yang dialirkan Sutasoma. Kekuatan Rudra pun lenyap dan kembali ke wujud aslinya. Ia gemetar mengira Sutasoma akan menghukumnya.

Namun Sutasoma malah menyambutnya dengan tangan terbuka tanpa syarat. Sutasoma bahkan meminta para raja mengampuni Purusada. Sayangnya mereka semua tak bisa lepas dari tuntutan Dewa Kala.

Sutasoma pun menawarkan untuk menebus hidup 100 Raja dengan nyawanya sendiri. Tekadnya jelas, dunia harus kembali damai. Maka Sutasoma menyerahkan dirinya kepada dewa Kala. Dewa kala lalu berubah menjadi naga raksasa dan menelan Sutasoma.

Namun saat melakukannya, ia merasakan kedamaian yang mengalir dari diri Sutasoma. Dewa Kala yang dibakar rasa bersalah memuntahkan kembali Sutasoma dan seketika itu juga ia diliputi damai sejahtera.

Demikianlah Sutasoma berhasil menegakkan kedamaian di 3 alam bukan dengan perang dan kekerasan, melainkan dengan Jalan Damai pengorbanan dan Welas Asih. Para korban perang hidup kembali bahkan para raksasa raja purusada dan Dewa Kala pun menjadi Biksu. Sedangkan Sutasoma dan permaisurinya kembali ke entitas aslinya dan pulang ke alam jinalaya.

Berbagai fenomena dalam Kitab Sutasoma dan masalah bangsa Indonesia

Oke, terus ikuti ya teman-teman, kita akan mengusut berbagai fenomena dalam Kitab Sutasoma yang menyambung dengan masalah bangsa kita saat ini dan apa saja sih yang diwariskan Majapahit bagi kemerdekaan Indonesia.

Hal yang menarik dalam kakawin Sutasoma, uniknya kisah Sutasoma bukanlah kisah baru karena pernah dipahatkan di Candi Borobudur pada abad ke-9 Masehi. Mpu Tantular yang menulis kakawin Sutasoma pada zaman Majapahit pun mengaku ia menyadur cerita terkenal berjudul “Purusada Santa”.

Kakawin Sutasoma ditutup dengan pujian bagi rajasanegara atau raja Hayam Wuruk menunjukkan bahwa mpu Tantular adalah saksi maka langsung dari masa keemasan Majapahit. Meski kakawin Sutasoma adalah karya sastra dan bukan catatan sejarah seperti Negarakertagama dan Pararaton, dalam kolofon atau catatan penulis dibagian akhir mpu Tantular menyebut Majapahit adalah negara yang berdaulat.

Ini menyiratkan adanya hukum. Ini menyiratkan adanya aparatur pemerintahan dan pelayanan publik, dan ini menyiratkan adanya teritori dan pertahanan terhadap wilayah kedaulatan. Uniknya teritori yang dimaksud mencakup darat laut. Ingat, ini laut ya bukan sungai. Karena dalam Lontar dipakai kata Sagara yang berarti laut atau Samudera.

Cukup berdaulat ya, bahkan menurut standar modern, untuk rincian wilayah Majapahit Mandala terbesar di Asia Tenggara pada masanya silakan baca Majapahit kerajaan kuno terbesar.

Menurut Zoetmulder, seorang pakar sastra Jawa Klasik. yang paling istimewa dari kakawin Sutasoma adalah adanya rekaman kehidupan beragama di masa Majapahit. Jika Negarakertagama merinci berbagai agama dan aliran di Majapahit, Kitab Sutasoma adalah satu-satunya karya sastra yang menjelaskan terjadinya akulturasi antara agama mayoritas, yakni Siwa dan Buddha juga adanya toleransi pada aliran minoritas.

Uniknya, meski Majapahit tidak bermasalah dengan adanya perbedaan keyakinan mpu Tantular mampu memberikan gambaran spekulatif. Seandainya intoleransi melanda Majapahit yakni dalam pupuh 137: ayat 1-12, ketika para dewa belum menguak Bhinneka Tunggal Ika, terjadi tiga hal ini, pembunuhan dan penjarahan, pengrusakan rumah ibadat dan penistaan agama serta pemerkosaan massal.

Anda merasa Dejavu? Sayapun. tujuanku Tantular jelas mengkontraskan situasi spekulatif itu dengan kondisi Majapahit yang sesungguhnya, yakni ada penegakan hukum aparaturnya enggak korup, perlindungan teritori yang mantap dan anti intoleransi. Idaman banget ya? dan itu bukan Utopia apalagi khayalan, karena Majapahit benar-benar eksis didukung bukti-bukti sejarah yang tak terbantahkan.

Nah, Bhinneka Tunggal Ika dari Majapahit lalu diserap pendiri bangsa dan ditarik ke lingkup yang lebih luas, tidak hanya sebatas agama namun juga mewakili beragamnya suku bahasa dan kebudayaan di Indonesia.

Yang menarik juga, Insinyur Soekarno memperkenalkan kata suku yang berarti kaki dalam Jawa, ibarat lipan yang badannya satu tapi punya banyak kaki atau Suku. Jadi, meski saya dan anda berbeda dalam banyak hal kita tetap satu, sebagai bangsa Indonesia.

Nah, selain semboyan Bhinneka Tunggal Ika ternyata Majapahit banyak menginspirasi kemerdekaan kita loh, yuk kita usut satu persatu.

Konsep negara kebangsaan

Dalam sidang BPUPKI pada 29.Mei tahun 1945, Muhammad Yamin menyebut bahwa negara yang akan mereka bentuk sebenarnya adalah Indonesia ketiga. Kok bisa?

Karena Indonesia yang pertama adalah Sriwijaya dan yang kedua adalah Majapahit. Saat Insinyur Soekarno menggulirkan gagasan negara kebangsaan pun menegaskan bahwa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit adalah model yang hendak di contohnya. Tentu ini lebih luas dari sekedar wilayah Hindia Belanda, karena pada masa keemasannya cakupan Majapahit membentang dari Utara Sumatera hingga Irian atau Papua.

Wilayah Indonesia kelak terdiri dari ribuan pulau dan budaya, namun semua diikat menjadi satu konsep bernama “Nusantara”.

Kesatuan Nusantara yang beragam

Nama Nusantara sudah tercatat sejak zaman Kerajaan Singasari salah satunya dalam prasasti Mula Malurung (1255 M), namun nama ini semakin populer di era Majapahit. Karena politik ekspansi yang digencarkannya, Empu Prapanca kemudian mengabadikan wilayah-wilayah Mandala Nusantara dalam kakawin Negarakertagama (1365 M).

Nama Nusantara kembali bergaung saat Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Pemuda 1928 mengusulkannya sebagai nama negara. Meski nama Indonesia yang terpilih, Nusantara tetap dipertahankan untuk merujuk pada luasnya wilayah dan beragamnya budaya kita.

Jadi, sepaket dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kata nusantara dari zaman klasik ini mengingatkan kita keberagaman adalah kekuatan, Dan sampailah kita ke warisan berikutnya:

Sang Saka Merah Putih

Tahukah Anda bahwa Majapahit juga mewariskan sang saka merah putih sebagai Bendera. Bukanya Bendera merapah putih itu asalnya dari bendera Belanda yang disobek bagian birunya? Kisah ini bisa anda baca di artikel Sejarah Kota Surabaya

Ya, bisa juga. Tetapi tanpa legitimasi dari sejarah Majapahit bendera kitab mungkin ditolak di dunia internasional, karena terlalu mirip dengan Monaco yang sudah menggunakannya sejak 881. Untungnya Indonesia bisa membuktikan bahwa merah putih sudah digunakan lama di nusantara, minimal sejak 1294 menurut prasasti Kudadu yang dikeluarkan diah Wijaya (1293 – 1309).

Pada saat itu merah putih memang sudah digunakan sebagai bendera meski awalnya menjadi Panji kerajaan Daha atau Kerajaan Kediri yang memberontak terhadap Singasari. Baca juga: Sejarah panjang bendera merah putih

Selain bendera, lambang negara kita juga berakar pada Majapahit.

Garuda berjuang untuk Merdeka

Kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari penjajahan para ular banyak dipahatkan di candi-candi era Singasari dan Majapahit, misalnya Candi Kidal, Candi Sukuh, dan Candi Cetho yang mengusung tema ruwat.

Kisah Garuda mengusung spirit yang sama dengan para pahlawan yang berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan. Maka ketika PPKI bersidang pada 18 Agustus 1945 guna menyusun undang-undang dasar sebagai konstitusi Indonesia mereka pun menetapkan Garuda Pancasila sebagai lambang negara kita.

Jadi apa gunanya sih kemerdekaan Indonesia dikait-kaitkan dengan Sriwijaya dan Majapahit? Kita tidak boleh lupa bahwa berkat adanya Sriwijaya dan Majapahit para pendiri bangsa berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bukanlah wilayah tak beradab yang ditemukan dan diberadapkan oleh Belanda, sehingga berhak dikuasai para Kolonis seperti yang terjadi di Amerika dan Australia.

Justru eksistensi Majapahit sebagai kerajaan berdaulat dalam Kitab Sutasoma menjadikan bangsa kita memiliki sejarah sebagai negara berdaulat. Jadi sebagai bangsa berdaulat yang dianeksasi dengan paksa oleh bangsa lain Indonesia berhak menutup dunia untuk mengakui kemerdekaannya.

Di sinilah pentingnya kita punya kesadaran sejarah. Majapahit yang menjadi klimaks dari rangkaian secara klasik adalah jangkar Indonesia pada kejayaan masa silam. Namun jangan lagi kita mengharapkan bangkitnya kembali kejayaan Majapahit.

Majapahit telah hadir disini, saat ini sebagai Indonesia. Kita tak perlu juga mengganti Ideologi dan Dasar negara dengan yang lain. Karena yang kita punya sudah yang terbaik. Eksekusinya saja yang perlu dibenahi dalam menegakkan hukum, memberantas korupsi dan menghempaskan intoleransi.

Dan seperti kata Kitab Sutasoma, semua itu dimulai dari tindakan sederhana yakni menghargai perbedaan dan berbelas kasih kepada sesama agar Indonesia selalu menjadi tempat yang aman nyaman dan membanggakan bagi kita jiwa-jiwa merdeka yang menyebutnya rumah.

Sumber: ASISI channel

https://youtube.com/watch?v=vAiuKI4L13A