Lompat ke konten

Candi Belahan dan air pancuran yang bikin awet muda

Pencarian air keabadian memiliki sejarah yang panjang. Konon, menurut sumber-sumber Timur, Alexander Agung pun melakukannya. Kita akan menelisik loka air keabadian Yang memancar dari payudara seorang dewi Yakni Candi Belahan di sisi timur gunung suci Penanggungan di Jawa Timur

Oke, teman-teman, kita di sini, di negara Indonesia

Dan situs sejarah yang kita telisik dibangun bersamaan saat kekaisaran Bizantium mencapai puncak penaklukkan hingga mencaploki wilayah-wilayah Arab di Suriah. Yuuk kita ke sana!

Udara lereng gunung yang sejuk langsung kami rasakan begitu memasuki loka ini Disambut suara gemericik air yang meneduhkan hati Kebetulan sedang tak banyak pengunjung

Inilah Candi Belahan, yang selalu mencuri perhatian dan menjadi ajang begitu banyak interprestasi Bagi masyarakat interprestasi itu tidaklah penting, terpenting adalah memanfaatkan air yang ada untuk kebutuhan sehari-hari, untuk ritual, ataupun sekedar rekreasi.

Masyarakat Jawa Klasik percaya bahwa Gunung Mahameru atau Himalaya di India sana Pernah dipotong para dewa dan bagian pucuknya diletakkan di Jawa Timur. Potongan Himalaya ini adalah Gunung Penanggungan, yang dahulu bernama Pawitra.

Dengan demikian gunung ini juga menyimpan mata air keabadian yakni Tirta Amerta, yang menjadi minuman para dewa. Inilah Tirta Amerta itu. 

Kita hari ini ada di situs Candi Belahan ‘ya. Teman-teman bisa lihat ada dua arca yang sebenarnya jaladwara.

Konon di tengahnya itu ada arca Wisnu, yang kadang-kadang diidentikkan dengan Airlangga. Yang ini dianggap arca Dewi Sri. Sementara yang ini dianggap Dewi Laksmi.

Keduanya adalah shakti, atau pasangan Dewa Wisnu Arca Dewi Laksmi memegang payudara yang memancarkan air. Teman-teman bisa perhatikan sendiri, betapa jernihnya air ini.

Sudah dibuktikan meskipun diletakkan dalam wadah terpisah, dalam satu minggu kejernihan air ini tidak berubah Biasa, sebuah tempat bersejarah biasanya ada mitos.

Mitosnya, bahwa air di sini bisa membawa keabadian Sehingga bisa melawan penuaan. Yang kedua, airnya ini mempunyai guna kesehatan. Banyak warga di sini yang mungkin memanfaatkan air ini juga

Kolam dikelilingi oleh deret batu. Dibelakang arca terdapat tembok bata merah, yang pada salah satu sisinya dihias relief. Secara keseluruhan situs ini bersih dan nyaman. Mengenai kapan situs petirtaan ini dibangun dan oleh siapa, tidaklah jelas.

Salah satu interprestasi mendasarkan pada relief ini, yang dianggap sebagai kronogram. Perhatikan, terdapat gambar Kala atau muka raksasa, dengan kedua tangannya, tampak seolah-olah tengah menelan medallion, atau bulatan. Di bawahnya terdapat bentuk tubuh tanpa kepala.

Ada yang berpendapat ini adalah gambar raksasa menelan bulan sesuai dengan kisah gerhana. Dimana tubuh yang bagian bawah tersebut adalah Dewa Candra atau Dewa Bulan. Kronogram ini dibaca dengan Candra Sinahut Kala, atau  Bulan digigit raksasa, Yang berarti tahun 931 Saka, atau tahun 1009 Masehi.

Dengan demikian Petirtaan ini diyakini dibangun pada tahun 1009 Masehi, yakni pada masa Raja Airlangga yang berdarah Bali itu memerintah pulau Jawa.

Dan memang berdasar kajian astronomi, pada tahun 1009 terjadi gerhana bulan yang bisa disaksikan di Pulau Jawa.

Pendapat ini diperkuat dengan dugaan bahwa arca Garuda Wisnu yang saat ini berada di museum Trowulan berasal dari petirtaan ini.

Garuda Wisnu dianggap sebagai perwujudan Raja Airlangga. Dan kedua arca dewi ini dianggap pasangan Dewa Wisnu, yakni Dewi Sri dan Laksmi, yang merupakan pertanda bahwa Raja Airlangga memiliki dua permaisuri, yang konon masing-masing melahirkan putra, yakni Shri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan,

Kedua putra ini menjadi penyebab terbelahnya kerajaan Airlangga menjadi dua, yakni Kerajaan Kadhiri dan Kerajaan Kahuripan. Pendapat ini meyakini bagian tengah ini dulunya adalah arca Garuda-Wisnu yang di Trowulan,

Dengan demikian terlihat petirtaan ini seperti gambaran Raja Airlangga beserta kedua permaisurinya. Namun pendapat lain membantah, Bahwa arca Garuda-Wisnu Trowulan terlalu besar untuk diletakkan di relung tengah. Sehingga mustahil arca tersebut berasal dari petirtaan ini.

Ada yang berpendapat bahwa petirtaan ini dibangun sebelum zaman Raja Airlangga,Yakni pada masa kerajaan Medang periode Jawa Tengah, berdasar keterangan Prasasti Cunggrang yang mengisyaratkan petirtaan ini disebut dharmmapatapan i pawitra. Jadi sebelum zaman Raja Sindok.

Pendapat lain justru menyoroti keberadaan dua arca dewi di petirtaan ini, dan darinya menyimpulkan usia bangunan ini bahkan lebih muda lagi, sekitaran masa kerajaan Majapahit.

Misalnya adanya susunan bata merah. Arcanya yang tegak simetris dengan ukuran natural Siras cakra yang dihiasi pancaran sinar Adanya kain-kain pita yang berkibaran di sekeliling arca.

Ini adalah ciri2 arca perwujudan pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit. Misalnya arca Dewi Parwati dari Candi Rimbi, maupun berbagai arca Amoghapasa dari Singhasari.

Sebenarnya pancuran air tidak hanya dari payudara. Perhatikan, teman-teman, kedua lengan dewi ini juga terdapat lubang yang merupakan pancuran, dan masih mengucurkan air.

Lihat juga, di lengan dewi satunya juga terdapat lubang pancuran, sayangnya tidak lagi mengeluarkan air.

Jadi terdapat enam pancuran jika semuanya berfungsi. Kedua arca ini berdiri di atas padmasana, atau singgasana berbentuk teratai, Begitu pun dengan relief ini.

Kalau diperhatikan, bagian tengah relief ini berlubang, yang sebenarnya tempat pancuran air.

Apa tidak mungkin jika relief kronogram ini letaknya di relung tengah, dan kita asumsikan disangga batu berukir yang terdapat lingga-yoni, sekaligus berfungsi sebagai pemisah area kedua arca ini? Jadi terdapat tujuh pancuran air Berdasar ukurannya pun lebih cocok dengan relung tengah.

Keberadaan lingga ini mengindikasikan situs ini beraliran Siwa, bukan Wisnu, sehingga kedua arca ini juga dikatakan bukanlah Dewi Sri maupun Dewi Laksmi, Melainkan Dewi Parwati pasangan Dewa Siwa

Nama “Parwati” sendiri menurut bahasa  Sansekerta berarti “Mata air pegunungan”, Sangat cocok untuk menggambarkan petirtaan ini.

Perhatikan relief kronogram ini, dimana tubuh di bagian bawah dianggap Dewa Bulan, dan diyakini bagian kepalanya telah hilang.

Namun perhatikan lagi, apa tidak mustahil jika tubuh ini memang sejak semula tanpa kepala? Karena tepat di depan lehernya tertutupi lidah dari raksasa yang terjulur.

Dengan ukiran lidah yang tidak  mengalami aus begitu, dimanakah kita akan meletakkan kepala yang hilang tadi?

Kedua, jika ini dewa mengapa bagian bawah tubuhnya tidak terdapat atribut, misanya gelang kaki.

Apa tidak mungkin tubuh itu sekedar tubuh, atau Janma? Sehingga mungkin saja antara lingkar medalion dan tubuh ini adalah dua bentuk terpisah.

Dan berbunyi “janma candra sinahut kala” atau tubuh bulan ditelan raksasa, yang berarti tahun 1217 Masehi, itu adalah masa kekuasaan awal kerajaan Singhasari.

Zaman Raja Ken Arok yang disebut Bathara Siwa, sehingga pas dengan adanya lingga dan arca Dewi Parwati di situs ini.

Pendapat lain menyatakan bahwa situs ini dibangun di masa Majapahit awal, di masa sekitar Ratu Tribhuwana yang juga diarcakan sebagai Dewi Parwati.

Perhatikan relief di salah satu sisi, yang mirip seperti sesosok yang mengintai, Sepertinya itu adalah raksasa Rahu yang ingin mencuri air Tirta Amerta.

Air Amertha adalah air keabadian yang keluar dari Gunung Mahameru usai para dewa mengaduk samudra, Kisah pengadukkan samudra yang melibatkan naga raksasa terdapat di relief Candi Simping.

Jika relief kronogram yang memperlihatkan kepala raksasa yang menelan bulan ini memang berada di tengah,

Kemungkinan di sini, jika utuh, akan berisi adegan yang melengkapi kisah gerhana, Mungkin adegan leher Rahu ditebas cakra, atau Rahu dikalahkan Dewa Siwa sesuai kisah Siwa Purana.

Atau, apa tidak mungkin jika ini sebenarnya bukan kronogram, melainkan sekedar jaladwara berhiaskan Kala dalam bentuk Kirtimukha?

Relief Rahu menelan bulan adalah hiasan yang umum di Asia Tenggara, Ini contohnya yang kami temui di berbagai negara. Jadi, cuma hiasan.

Kala Kirtimukha sendiri sebenarnya adalah simbol dari kebaikan dan kemenangan, sehingga air yang mengalir darinya mungkin dianggap membawa kejayaan.

Oke, teman-teman, terus ikuti ya, Karena situs petirtaaan ini ternyata lebih luas dari dugaan, dan merupakan gugusan candi, Kita akan menelisik gerbang waktu di tengah kuburan tua.

Petirtaan Belahan adalah gugusan yang luas. Kami pun bergerak menelusur. Situs ini dikenal masyarakat dengan nama Gapuro Lanang atau gapura pria, Dan Gapuro wadon, atau gapura perempuan.

Kita menuju Gapuro Lanang dulu ya.

Ada jalan setapak, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau sepeda angin. Namun udara segar justru menyegarkan perjalanan. Ditambah lanskap indah sangat menyegarkan mata. Kami pun melintasi sungai yang jernih.

Gugusan yang kami maksud terbukti dengan banyaknya sebaran benda-benda kuno di area ini Misalnya alat giling ini.

Tembok kuno juga menyapa penelusuran kami Yang menyuarakan aktifitas di loka ini pada masa yang lampau

Langkah kami menyeruak dan akhirnya memasuki area kuburan tua milik warga. Pohon-pohon kamboja yang bertumbangan masih berusaha mempertahankan hidupnya. Dan di sinilah gapura kuno itu berdiri melintasi zaman.

Teman-teman perhatikan, bentuk gapuranya paduraksa. Artinya ini memisahkan area tengah dalam sebuah mandala menuju area utama, atau yang sangat disucikan. Bagian atasnya berbentuk limas dan sudah tidak utuh lagi.

Tepat di depan gapura ini, lokasi pemakaman warga sebenarnya Warga sekitar, tapi sudah lama nggak digunakan

Pengetahuan kita mengenai gapura ini masih kosong. Tidak cukup jelas kapan dibangun dan oleh siapa.

Gapura yang dimitoskan kadang-kadang hilang dari foto ini sebenarnya memiliki keeksotisannya sendiri, yang pasti memancing mata setiap fotografer.

Jika benar pendapat yang menyatakan Situs Belahan berasal dari zaman Majapahit, tentunya akan banyak kekunoan di sini berbahan bata merah. Sebaran benda kuno masih ditemukan.

Konon juga terdapat arca Nandini yang membuktikan area ini beraliran Siwa. Sekitar 100-an meter dari Gapuro Lanang, berdirilah pasangannya. Teman-teman bisa perhatikan ya, candinya. Gapura 2 sudah kelihatan dan ada jalan setapaknya

Yuk kita naik ke atas

Banyak batanya yang sudah geripis ya. Sama seperti pasangannya, berbentuk paduraksa. Sayap gerbangnya sudah hilang, Dan sama seperti pasangannya, gerbang ini juga ditopang beton penguat untuk mencegahnya rubuh.

Akhir dari penelusuran? O, tidak! Kita menelusur ke sini untuk melihat sebuah bekas reruntuhan candi Kami masih melanjutkan ke sebuah hutan jati. Hanya beberapa meter dari gapura perempuan. Terdapat tumpukan bata kuno dalam jumlah yang fantastis

Tentu bentuknya yang sekarang adalah hasil penataan, Namun di penemuan awal tentunya sebaran batu bata ini tidak beraturan.

Apakah ini runtuhan tembok yang bersambungan dengan gerbang tadi? Atau puing-puing sebuah kompleks kuno? Atau bahkan mungkin sebuah candi!

Sebenarnya temuan-temuan arkeologis, atau temuan-temuan bersejarah. Di negara kita masih banyak sekali Nah, masih ditemukan candi-candi baru atau petilasan-petilasan baru, Atau tempat-tempat baru, yang di situ ada sumber-sumber sejarah

Ini salah satu contohnya. Belum jelas ini apa. Tapi yang terpenting bagi kita sebagai generasi muda adalah menjaga dan merawatnya Betapa pun tak banyak yang diketahui tentang gugusan ini, Namun bukti-bukti di sini cukup jelas:

Arca-arca pantheon Hindu, Adanya Lingga, Pecahan Yoni,Padmasana, Gapura sebagaimana gapura Hindu di Bali, Memberi gambaran kepada kita sejatinya bangsa kita itu bagaimana, dan menganut apa Yakni Bhinneka Tunggal Ika

Sumber: ASISI channel

Baca juga: Candi Sawentar di kota Blitar