Sejarah Awal dan Asal Usul Kota Sleman

Sejarah Awal dan Asal Usul Kota Sleman

Kota Sleman merupakan Kota yang telah berhasil menciptakan kota dengan jumlah penduduk kurang lebih 370.000 jiwa. Kota ini memiliki luas wilayah 63,23 km2 dan memiliki banyak potensi di bidang Pendidikan, Pertanian, Pariwisata dan Perdagangan.

Kota Sleman terbagi menjadi lima kecamatan, yaitu Ngaglik, Pakem, Cangkringan, Gamping dan Berbah. Administrasi berkantor di Jalan Nologaten No. 13 Sleman Kota. Kota Sleman didirikan pada tanggal 1 Juni 1959 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1959 dengan status Kabupaten Sleman. Pada saat itu wilayah Kota Sleman masih merupakan bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah Awal dan Asal Usul Kota Sleman – Kota Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan Bumi Merapi. Nama Sleman itu berasal dari kata Saliman. Liman itu gajah. Dahulu wilayah ini masih berupa hutan. Di buktikan dengan adanya patung gajah beserta dua anaknya yang dibangun di Lapangan Denggung, tepatnya di sebelah timur Kantor Pemkab Sleman, pinggir Jl. Raya Magelang. Gajah itu merupakan kendaraan yang ditunggangi Sultan Hadiwijaya.

Keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya. Dalam Rijksblad tersebut juga disebutkan bahwa kabupaten Sulaiman terdiri dari 4 distrik yakni : Distrik Mlati (terdiri 5 onderdistrik dan 46 kalurahan),

Untuk mengetahui letak Kota Sleman silahkan lihat peta sleman Peta Yogyakarta

Distrik Klegoeng (terdiri 6 onderdistrik dan 52 kalurahan), Distrik Joemeneng (terdiri 6 onderdistrik dan 58 kalurahan), Distrik Godean (terdiri 8 onderdistrik dan 55 kalurahan). Berdasarkan Perda no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari tersebut tepat pada Hari Senin Kliwon, Tanggal 12 Rejeb Tahun Je 1846 Wuku Wayang.

Berdasar pada perhitungan tahun Masehi, Hari Jadi Kabupaten Sleman ditandai dengan surya sengkala “Rasa Manunggal Hanggatra Negara” yang memiliki sifat bilangan Rasa= 6, Manunggal=1, Hanggatra=9, Negara=1, sehingga terbaca tahun 1916.

Sengkalan tersebut, walaupun melambangkan tahun, memiliki makna yang jelas bagi masyarakat Jawa, yakni dengan rasa persatuan membentuk negara. Sedangkan dari perhitungan tahun Jawa diperoleh candra sengkala “Anggana Catur Salira Tunggal”. Anggana=6, Catur=4, Salira=8, Tunggal=1. Dengan demikian dari candra sengkala tersebut terbaca tahun 1846.

Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat diturunkan statusnya menjadi distrik di bawah wilayah Kabupaten Yogyakarta. Dan baru pada tanggal 8 April 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei angka 2 (dua).

Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai wilayah Kabupaten dengan Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17 Kapenewon/Kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo.

Melalui Maklumat Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah Kelurahan, maka 258 Kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi 86 kelurahan/desa. Kelurahan/Desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan.

Pos terkait