Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebudayaan: Pengertian, Faktor, Pembagian, Alat, dan Cara berkembang

Menurut bahasanya pengertian kebudayaan adalah: kata kebudayaan berasal dari akar kata ”budh” (bahasa Sansekerta) yang berarti akal”. Kemudian dari kata ”budh” itu berubah menjadi "budhi” dan jamaknya ”budhaya”. Selanjutnya menjadi kata “kebudayaan” lantaran di indonesiakan dengan mendapat awalan ke” dan akhiran an”. Di samping uraian seperti tersebut di atas ada pula orang yang menguraikan kata “kebudayaan” itu kepada “budi” dan “daya”. Budi adalah kekuatan rohani dan daya adalah kekuatan jasmani. Maka menurut uraian ini, kebudayaan dapat diartikan kepada hasil atau penjelmaan daripada perpaduan (kombinasi) ke dua kekuatan tersebut.

Dalam hal ini, meskipun tampak adanya perbedaan di antara kedua uraian itu, namun pada hakekatnya ke dua macam uraian tersebut mempunyai banyak persamaan daripada perbedaannya, malah boleh dikatakan bahwa kalau ditinjau dari segi pengertian yang terkandung di dalamnya maka perbedaan di antara ke duanya tidak ada sama sekali.

Dalam bahasa Arab, kata “kebudayaan” itu disebut dengan "Ats Tsagafah” yaitu mashdar (kata dasar) dari: tsagifa - yatsgafu atau tsagufa - yatsgufu, yang artinya pendidikan, pengajaran, pertemuan dan penajaman. Dalam bahasa Arab sendiri, selain daripada kata “Ats Tsagafah” yang dipakai sebagai sebutan kata kebudayaan” terdapat juga kata “At Tamaddun” dan”Al Hadharah”. Kemudian, kata kebudayaan ini dalam bahasa Inggeris disebut ”culture”, dalam bahasa Belanda ”cultuur”, dalam bahasa Latin ”cultura” dan dalam bahasa Tionghoa "Wen Hwa”.

Kebudayaan: Pengertian, Faktor, Pembagian, Alat, dan Cara berkembang

Pengertian Kebudayaan Menurut Istilah

Setelah memahami arti “kebudayaan” menurut bahasa, di bawah mi akan dibentangkan pula beberapa pengertian kebudayaan, bila ditinjau dari sudut istilah dan pendapat para ahli tentang kebudayaan:

1. Prof. Mr. Sutan Takdir Alisyahbana (ahli bahasa Indonesia) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: " Kebudayaan ialah penjelmaan cara berpikir dari sekumpulan manusia pada satu tempat dan satu ruang”.

2. Prof. Dr. Kuntjaraningrat (ahli anthropologi Indonesia) berpendapat "Kebudayaan itu keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat”. |

3. Dr. Muhammad Hatta mengatakan "Kebudayaan adalah ciptaan hidup daripada suatu bangsa”.

4. Dr. Ir. Soekarno berkata "Kebudayaan adalah ciptaan hidup yang timbul daripada manusia”.

5. Ki Sarmidi Mangunsarkoro mengatakan "Yang disebut kebudayaan (cultuur) adalah segala yang merupakan (bersifat) hasil kerja jiwa manusia dalam arti yang seluas-luasnya”.

6. Prof. Soenarjo Kolopaking dalam Kongres Kebudayaan Indonesia I di Magelang memberikan difinisi kebudayaan sebagai berikut: Kebudayaan atau cultuur adalah totaliteit daripada milik dan hasil usaha manusia, yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan jiwanya dan oleh proses saling mempengaruhi antara kekuatan jiwa tadi dan antara jiwa manusia yang satu dan jiwa manusia yang lain”.

7. Drs. Sidi Gazalba mengatakan "Kebudayaan adalah cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam satu ruang dan suatu waktu”.

Sebenarnya banyak sekali definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh para ahli dan peminat kebudayaan. A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam buku mereka "Culture, A Critical review of concepts and definitions” (tahun 1952) telah berhasil menghimpun 160 definisi kebudayaan itu. Dari beberapa pendapat yang banyak itu, dapat disimpulkan bahwa ”Kebudayaan ialah manifestasi atau penjelmaan daripada kerja jiwa manusia dalam arti yang seluas-luasnya”.

Baca juga: Teori meluas dan berkembangnya kebudayaan

FAKTOR-FAKTOR YANG MENIMBULKAN KEBUDAYAAN

Faktor-faktor atau sebab-sebab timbul dan terjadinya sesuatu kebudayaan antara lain ialah:

a. Faktor geografis dan millieu (letak daerah dan lingkungan)

Misalnya: orang yang tinggal di daerah pantai (sekitar laut) biasanya mempunyai keahlian dalam pelayaran, menangkap ikan, serta mengetahui tentang musim, orang yang tinggal di daerah agraris, pandai sekali bercocok tanam, pandai membagi-bagi perjalanan air, ahli dalam bajak-membajak, dan lain sebagainya, orang yang tinggal di kampung atau di desa dalam tata cara hidupnya selalu mencerminkan sifat gotong royong, hidup secara kolektif, tetapi orang yang tinggal di kota-kota biasanya memiliki kebalikan daripada sifat-sifat tersebut.

b. Faktor bangsa atau nation

Oleh karena adanya perbedaan bangsa, maka berbeda pula atas cara, watak, pembawaan, adat istiadat daripada masing-masing bangsa itu.

c. Faktor Agama

Contoh: adanya agama Budha dan Hindu maka menjelmalah kuil-kuil, candi-candi dan sebagainya: adanya agama Kristen dan Katholik maka berdirilah gereja-gereja, usaha-usaha sosial seperti rumah sakit, tempat-tempat pendidikan, balai-balai pengobatan dan lain-lain.

Demikianlah pula dengan adanya agama Islam, maka terwujudlah masjid-masjid, mushalla-mushalla, pesantren-pesantren, madrasah-madrasah, perguruan-perguruan Islam, perpustakaan dan museum Islam, rumah sakit-rumah sakit Islam dan beraneka ragam corak kebudayaan lainnya yang diilhami Islam.

4 faktor yang menentukan kebudayaan

Dalam bukunya ”The Age of Gods” Dawson menulis bahwa ada empat faktor yang menentukan corak kebudayaan. Keempat faktor tersebut ialah:

  • Faktor geografis.
  • Faktor keturunan atau bangsa.
  • Faktor kejiwaan.
  • Faktor ekonomi.

Pendapat Dawson yang menyebutkan faktor geografis dan faktor keturunan atau bangsa sebagai hal yang menentukan corak kebudayaan berarti sama dengan apa yang telah dikemukakan di atas. Hanya selain daripada itu ia menambahkan dua faktor lainnya: kejiwaan dan ekonomi.

Ke dua faktor tersebut memang mempengaruhi pula terhadap pembentukan dan corak kebudayaan. Dalam hal ini Dawson tidak menyebutkan "'agama” sebagai salah satu faktor daripada pembentukan dan corak kebudayaan, pada hal agama itu turut menentukan dan memberi corak terhadap kebudayaan, yang contoh-contohnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Baca juga: 3 faktor yang menimbulkan kebudayaan

LAPANGAN DAN PEMBAGIAN KEBUDAYAAN

Hal-hal yang termasuk lapangan kebudayaan menurut pendapat T.M. Usman el Muhammady ialah:

1. Falsafah :penjelmaan dari kegiatan pikiran manusia mencari kebenaran.

2. Ilmu Pengetahuan: kegiatan pikiran manusia untuk mengetahui alam, baik yang di luar manusia atau dalam manusia sendiri, pengetahuan mana untuk alat dalam soal-soal hidup dan kehidupan.

3. Sosial : penjelmaan rasa untuk melanjutkan hidup (turunan) yang disusun dengan pikiran.

4. Ekonomi : penjelmaan daripada rasa mempertahankan hidup (supaya jangan mati) yang disusun dengan pikiran.

5. Politik : penjelmaan daripada kegiatan pikiran manusia untuk membentuk kekuasaan sehingga dapat menyusun peri kehidupan sebaik-baiknya.

6. Kesenian : penjelmaan daripada rasa keindahan.

Selain pembagian lapangan kebudayaan menurut cara di atas, ada pula ahli kebudayaan yang menyebutkan tentang aspek-aspek, jihad-jihad dan lapangan kebudayaan seperti di bawah ini:

  • a) Sosial
  • b) Ekonomi
  • c) Religius (keagamaan)
  • d) Ludiek (permainan, ilmu pengetahuan, kesenian)
  • e) Bahasa
  • f) Teknologi.

Dalam lapangan kebudayaan menurut pendapat yang ke dua di atas, agama atau "religie” juga dimasukkan. Kalau yang dimaksudkan dengan "agama” di sini adalah agama ”ardhi” atau wadh'i” (agama ciptaan manusia), hal itu boleh saja dan memang demikianlah sebenarnya.

Tetapi kalau yang dimaksudkan adalah semua agama, termasuk agama "Samawi” (seperti Islam), maka hal itu tidak dapat dibenarkan. Sebab agama ”Samawi” itu bukanlah produk daripada caraberpikir dan cara merasa manusia, melainkan adalah ajaran dari Allah yang dibawa oleh para Rasul untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia.

Ketujuh lapangan kebudayaan adalah:

  1. falsafah,
  2. ilmu pengetahuan,
  3. sosial,
  4. ekonomi,
  5. politik,
  6. kesenian dan agama (ardhi), dalam kebudayaan diistilahkan (dinamakan) dengan "Cultural Universals”.

Selanjutnya, bila diperhatikan dengan seksama, maka dalam garis besarnya kebudayaan itu dapat dibagi kepada dua bagian:

Pertama: Materiil Cultuur (kebudayaan kebendaan, kebudayaan jasmaniah, benda-benda kebudayaan), yaitu hasil kerja jiwa manusia yang dapat dilihat atau diraba. Misalnya: lukisan, bangunan, pakaian, perkakasperkakas, ukiran, dan lain-lain.

Kedua: Geestelijke Cultuur (kebudayaan kejiwaan, kebudayaan rohaniah, kebudayaan spirituil, pemikiran kebudayaan), yaitu hasil kerja jiwa manusia yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba. Misalnya: tata cara, ilmu pengetahuan, filsafat, seni suara, dan lain sebagainya.

Sungguh pun terdapat pembagian seperti yang tersebut di atas, namun hal ini hanyalah semata-mata untuk memudahkan pengertian saja, sebab kenyataannya antara kebudayaan jasmaniah dan kebudayaan rohaniah, terdapat saling hubungan yang erat sekali dan kadang-kadang sulit untuk dipisah-pisahkan.

Baca juga: Lapangan dan pembagian kebudayaan

ALAT UNTUK MEMPELAJARI DAN MENGENAL KEBUDAYAAN

Kebudayaan itu dapat dipelajari, diselidiki dan dikenal dari bermacam-macam cara atau jalan. Jalan atau cara itulah yang dimaksudkan sebagai alat untuk mengenal atau mempelajari kebudayaan. Dari sekian banyak alat untuk mempelajari dan mengenal kebudayaan itu, di antaranya sebagaimana disebutkan di bawah ini:

1. Bangunan-bangunan yang merupakan peninggalan dari masa lampau, seperti: pyramida yang terdapat pada bangsa Mesir Kuno, turbah (bangunan di atas kuburan) yang terdapat di negeri Mesir, kubah yang terdapat di Parsi, makam-makam yang banyak terdapat di Indonesia, dan lain-lain.

2. Tulisan-tulisan, seperti batu bertulis yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia, tulisan paku yang terdapat pada tugu peringatan bangsa Assyria, tulisan hieroglyph yang terdapat pada dinding-dinding kuburan dan kuil-kuil yang ada di Mesir pada zaman dahulu kala, dan sebagainya.

3. Lukisan-lukisan, seperti yang terdapat pada bangsa Parsi Kuno yang. di antaranya melukiskan tentang kebesaran Raja Cyrus dengan lukisan yang bersayap empat.

4. Peninggalan-peninggalan yang berupa alat-alat, seperti kapak yang terbuat dari batu yang terdapat di kalangan penduduk Indonesia pada zaman batu.

5. Kitab-kitab agama, yang melukiskan tentang keadaan bangsa-bangsa pada zaman dahulu kala.

6. Sejarah, menurut T.M. Usman el Muhammady dalam pukunya "Jiwa Islam” bahwa akan menyelidiki azas kebudayaan itu sedalam-dalamnya, sejarahlah yang menjadi alat yang sebaik-baiknya, kedua acara ini rapat dan langsung perhubungannya.

T.M, Usman el Muhammady lebih lanjut menulis bahwa daripada sejarah umum dapat kita peroleh tingkatan perjalanan sejarah. Tingkatan perjalanan sejarah ialah kesimpulan daripada kemajuan dan kemunduran sesuatu bangsa, abad demi abad, perbandingan suatu zaman dengan zaman lain, jurusan yang dituju oleh bangsa itu dan apa yang telah dapat dilaksanakannya selama sejarah itu dilaluinya.

Tingkatan sejarah ini ialah alat untuk mengenal sejarah kebudayaan. Sejarah kebudayaan inilah yang memberi lukisan azas budi dan daya.

Baca juga: 6 alat untuk mempelajari kebudayaan

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Mengapa manusia saja yang berkebudayaan sedang binatang tidak? Apabila ditinjau dari segi jasmaniah atau physik boleh dikatakan antara manusia dan binatang tidak terdapat perbedaan yang prinsipil. Apalagi bila diperbandingkan antara binatang jenis antropoide (seperti orang hutan umpamanya) dengan manusia, maka akan lebih jelaslah tidak adanya perbedaan antara keduanya.

Tetapi dari segi lain, akan tampak adanya perbedaan antara manusia dengan binatang itu, yakni apabila ditinjau dari sudut rohaniah maka manusia jauh berbeda dari binatang. Perbedaannya terletak pada essensi atau hakekat manusia itu sendiri.

Manusia pada hakekatnya mempunyai jiwa, sedangkan binatang tidak. Binatang hanya memiliki pernafasan, rasa indera dan naluri saja. Oleh karena jiwa yang menyebabkan adanya kebudayaan, sedang yang memiliki jiwa hanya manusia, binatang tidak, maka dengan sendirinya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa manusialah yang berkebudayaan. Sebaliknya, karena binatang tidak mempunyai jiwa, maka sudah barang tentu ia tidak berkebudayaan.

Pertanyaan kedua yang timbul apabila kita membicarakan masalah manusia dan kebudayaan ialah: apa sebab kebudayaan tidak sama pada setiap bangsa manusia? Untuk memperjelas pertanyaan tersebut, kini dapat diajukan pula sebuah pertanyaan tambahan: mengapa kebudayaan Orang-orang Timur berbeda dengan kebudayaan orang-orang Barat?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, pertama kali dapat dikatakan bahwa tiap manusia mempunyai jiwa. Tetapi antara jiwa seseorang dengan jiwa seseorang lainnya terdapat perbedaan, sebagaimana berbeda phisik, rupa dan wajah tiap manusia itu.

Manusia sebagai pribadi mempunyai jiwa, tetapi juga golongan manusia dalam bentuk kesatuan sosial, mempunyai jiwa sendiri-sendiri pula. Jadi, di samping adanya perbedaan jiwa di antara pribadi-pribadi dalam suatu golongan, terdapat pula persamaan kejiwaan di antara mereka, yang dinamakan jiwa golongan.

Jiwa golongan ini ada yang berbentuk kelompok, suku dan bangsa atau nation, dan lain-lain. Demikianlah, jiwa (atau pikiran, rasa, dan kemauan) suatu golongan manusia atau bangsa berbeda dengan jiwa golongan bangsa lain.

Perbedaan jiwa menyebabkan perbedaan cara berpikir dan merasa serta berkemauan, pada hal berpikir, merasa dan berkemauan itulah yang melahirkan kebudayaan. Apabila cara berpikir, merasa dan berkemauan tiap-tiap bangsa berbeda, maka berarti kebudayaannya (yang merupakan hasil kerja daripada ke tiga faktor jiwa tadi) pun pasti berbeda pula.

Sebagai contoh bisa dikemukakan: cara berpikir orang Barat yang ”“zakelijk” dan ”"rationil” berbeda dengan cara berpikir orang Timur yang "magis” dan irrationil”. Cara berpikir dan merasa orang Barat yang "'individualistis” berbeda dengan cara berpikir dan merasa orang Timur yang ”collectivistis”. Oleh sebab terdapat perbedaan semacam itu antara bangsa Barat dan bangsa Timur, maka terdapat pulalah perbedaan kebudayaan antara bangsa Barat dan bangsa Timur itu.

Baca juga: Hubungan manusia, masyarakat dan kebudayaan

CARA MELUAS DAN BERKEMBANG KEBUDAYAAN

Seorang sarjana Barat bernama F. RATSEL (1844 - 1904), mempunyai teori tentang cara meluas dan berkembangnya sesuatu kebudayaan. Teorinya ialah bahwa perluasan dan perkembangan sesuatu kebudayaan adalah disebabkan oleh karena adanya (terjadinya) salah satu daripada dua hal seperti berikut:

1. Migratie atau perpindahan golongan.

Misalnya: perpindahan orang-orang Inggris ke benua Amerika dan perpindahan orang-orang India Belakang ke Indonesia.

2. Kontak atau terjalinnya suatu hubungan.

Misalnya: dengan terdapatnya perdagangan, pelancongan (touris), penjajahan, peperangan dan lain-lain.

Akibat daripada terjadinya ke dua hal tersebut atau salah satu antara keduanya, maka terjadilah pula pertemuan antara kebudayaan-kebudayaan dari masing-masing bangsa.

Kalau dua kebudayaan atau lebih telah bertemu, maka akan terjadilah beberapa kemungkinan.

1. Akulturasi (acculturation, culture contact) yaitu bila unsurunsur kebudayaan pendatang lambat laun diterima dan diolah sedemikian rupa ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri itu.

2. Assimilasi, yaitu kebudayaan dari kelompok pendatang dan penerima masing-masing berubah saling menyesuaikan diri menjadi satu. Timbulnya percampuran kebudayaan semacam ini mengakibatkan kita tidak mudah untuk mengenal lagi mana unsur-unsur kebudayaan lama dan mana pula unsur-unsur kebudayaan baru (pendatang), sebab kedua-duanya telah sama-sama lebur menjadi satu dan membentuk kebudayaan yang bercorak baru.

Contoh: Menurut Dr. N.J. Krom bahwa di pulau Ambon terdapat kebudayaan campuran yang bukan kebudayaan Indonesia, bukan kebudayaan Belanda dan bukan pula kebudayaan Protestan, melainkan campuran dari kebudayaan itu semua.

3. Symbiotic, yakni bentuk daripada masing-masing kebudayaan tidak diubah, dalam arti kata bahwa kebudayaan pendatang tidak membinasakan kebudayaan asli dan tidak pula terjadi percampuran, melainkan kedua-duanya meneruskan kebudayaannya masing-masing dalam daerah yang sama.

Contoh: Pada bangsa Toraja Barat, kaum bangsawannya berketurunan lain dan berkebudayaan yang tidak sama dengan rakyat biasa. Di pulau Sumbawa keturunan Sultan berasal dari Goa. Bangsawan kaum ini dan sebagian dari rakyat Sumbawa yang bebas -Taoe Joeran namanya mempunyai adat istiadat yang sama dengan adat istiadat di Sulawesi Selatan dan berbeda dengan adat penduduk lainnya.

d. Adoptasi (bukan "adaptasi”), yakni jika unsur-unsur kebudayaan asli menjadi musnah dan kebudayaan yang baru datang itu terus berkembang sebagai gantinya dalam bentuknya yang utuh. Contoh: adat istiadat kaum Jahiliyah di Jazirah Arab lenyap dan musnah dengan datangnya Islam, dan berkembanglah di sana adat istiadat dan kebudayaan yang dijiwai oleh Islam.

Baca juga: Teori meluas dan berkembangnya kebudayaan

SEBAB TERJADI AKULTURASI

Akulturasi dapat diartikan dengan perubahan kebudayaan atau tukar menukar kebudayaan. Terjadinya akulturasi itu adalah disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya ialah:

  1. apabila ditemukan unsur baru
  2. apabila unsur baru dipinjam dari kebudayaan lain
  3. apabila unsur-unsur kebudayaan yang ada tidak lagi cocok dengan lingkungan, lalu ditinggalkan atau diganti dengan yang lebih baik
  4. apabila ada unsur-unsur yang hilang karena gagal dalam pewarisan dari suatu angkatan ke angkatan berikutnya.

Unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima oleh masyarakat dalam rangka akulturasi itu, ialah:

1. Unsur yang kongkrit, yaitu unsur-unsur kebudayaan jasmani, benda-benda, alat-alat dan sebagainya, terutama benda-benda dan alat-alat yang mudah ditiru pemakaiannya.

2. Unsur-unsur yang sangat berguna bagi kelompok yang menerima unsur tadi. Misalnya: suku bangsa yang gemar berburu dengan mudah menerima dan mempergunakan senjata api, padahal senjata api itu unsur kebudayaan asing. Hal itu disebabkan karena senjata api besar faedahnya dalam berburu.

3. Unsur-unsur yang mudah dapat disesuaikan dengan susunan keadaan dari masyarakat atau kelompok yang menerima unsur-unsur itu.

Sebaliknya, unsur-unsur kebudayaan yang sulit dirubah atau diganti dengan unsur-unsur kebudayaan asing, ialah:

  1. Unsur-unsur kebudayaan yang termasuk agama atau religi.
  2. Unsur-unsur yang mempunyai fungsi yang terjaring luas dalam masyarakat. Misalnya: sistim kekerabatan dan solidaritas kekerabatan.
  3. Unsur-unsur kebudayaan yang dipelajari pada tingkat-tingkat paling dahulu dalam proses sosialisasi dari individuindividu dalam masyarakat.

Individu-individu yang bagaimanakah yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing? Dalam memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut para ahli kebudayaan tidak mempunyai kesamaan pendapat. Pada garis besarnya, jawaban itu berkisar pada dua hal:

1. Orang-orang yang wataknya "progressif” lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing itu, sedangkan orangorang yang wataknya '"kolot” sukar sekali menerimanya. Kalau dalam masyarakat, orang-orang yang berwatak ”'progressif” itu jumlahnya banyak, maka masyarakat itu akan cepat berubah.

Tetapi kalau dalam masyarakat orang-orang yang berwatak "kolot” yang dominan, maka masyarakat sulit akan mengalami perubahan atau lambat sekali baru bisa berubah.

b. Individu-individu yang di dalam masyarakat penerima mempunyai kedudukan baik, atau sudah menikmati kebaikan-kebaikan dari kehidupan masyarakat penerima tadi, tidak mudah terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing, sedangkan orang-orang yang dalam masyarakat tersebut belum mencapai kedudukan baik atau belum sampai menikmati kebaikan-kebaikan dari kehidupan masyarakat, jauh lebih mudah dapat menerima unsur-unsur kebudayaan asing.

Baca juga: Penyebab terjadinya akulturasi

FAEDAH MEMPELAJARI SEJARAH KEBUDAYAAN

Tiap-tiap ilmu pengetahuan pasti ada arti dan manfaatnya. Demikian pula mempelajari Sejarah Kebudayaan sudah barang tentu ada pula guna dan faedahnya. Bahkan mempelajari Sejarah Kebudayaan itu penting sekali artinya bagi hidup dan kehidupan manusia, terutama buat hidup dan kehidupannya di masa kini dan pada masa-masa yang akan datang.

Di antara faedah mempelajari Sejarah Kebudayaan ialah:

1. Untuk mengetahui kegiatan manusia pada umumnya dalam mengolah alam sekitarnya untuk keperluan hidup mereka. Dengan demikian dapatlah kita mengetahui sampai di mana atau sejauh mana tingkat kemajuan manusia dalam berpikir dan dalam bidang pengetahuan.

2. Untuk mengetahui mana-mana yang baik dan bermanfaat dari kehidupan manusia pada masa-masa lalu. Segala yang baik dan bermanfaat dapat dipakai atau diteladani, sedangkan yang kurang atau tidak baik yang merusak harus ditinggalkan.

3. Untuk memperluas pengetahuan dan mempertajam aka) dalam membanding dan menimbang kebudayaan-kebudaya. an berbagai ummat manusia di dunia ini, sejak masa-masa yang lalu, masa sekarang dan untrk masa-masa yang akan datang.

4. Agar kita dapat menyesuaikan diri (dalam arti yang baik) terhadap sesuatu masyarakat tempat kita berada serta dapat dengan mudah mengajak mereka ke arah yang lebih maju dalam berbagai lapangan kebudayaan.

5. Untuk mengetahui perkembangan kebudayaan dari masa ke masa pada beberapa negara di dunia ini.

Untuk mengetahui sampai di mana persinggungan atau pertemuan antara kebudayaan-kebudayaan yang banyak itu dan bagaimana akibat daripada pertukaran unsur-unsur kebudayaan tersebut.

Baca juga: 6 manfaat mempelajari sejarah kebudayaan

MANUSIA, MASYARAKAT, DAN KEBUDAYAAN

Apakah masyarakat (society) itu? Sebagaimana banyaknya definisi yang diberikan kepada kebudayaan”, maka definisi tentang “masyarakat” pun bermacam-macam pula. Hanya, kalau A.L.: Kroeber dan C. Kluckhohn telah berhasil menghimpun definisi 'kebudayaan” sebanyak 160 macam, maka berapa banyak definisi mengenai masyarakat” yang diberikan oleh para ahli, kiranya belum ada sarjana-sarjana yang menghitung dan mengumpulkannya.

Oleh sebab itu, berapa jumlah definisi "masyarakat” yang berkembang di dunia ilmu pengetahuan selama ini belum dapat diketahui secara pasti. Sungguhpun definisi mengenai “masyarakat” sangat banyak, namun inti pengertian daripada masyarakat” itu sama saja, alias tidak berbeda.

Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam bukunya "Pengantar Antropologi” halaman 98 mengemukakan definisi masyarakat” sebagai berikut: "Masyarakat itu adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistim adat istiadat yang tertentu”. Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat itu, maka masyarakat adalah:

  1. terdiri dari manusia-manusia,
  2. manusia-manusia itu membentuk kesatuan hidup atau kehidupan bersama,
  3. kehidupan bersama tersebut diikat oleh suatu sistim adat istiadat, tradisi, kebiasaan atau tata kehidupan tertentu.

Kalau begitu apakah hubungan manusia dengan masyarakat? Hubungannya jelas sekali: manusia adalah unsur berdirinya masyarakat, sedangkan masyarakat adalah himpunan atau kesatuan daripada manusia-manusia. Antara manusia dan masyarakat tidak dapat dipisah-pisahkan. Manusia ada, maka ada pula masyarakat. Sebaliknya, masyarakat ada, karena adanya manusia.

Kemudian, apa pula hubungan masyarakat dengan kebudayaan? Kebudayaan adalah hasil, penjelmaan atau manifestasi daripada kerja jiwa manusia. Masyarakat adalah kesatuan daripada manusia-manusia yang melahirkan kebudayaan itu. Dengan perkataan lain, masyarakat itu merupakan himpunan daripada manusia-manusia yang melahirkan, mendukung dan mengembangkan kebudayaan itu.

Jadi, masyarakat itu adalah wadah atau tempat daripada kebudayaan, tempat menyalurkan cipta budaya manusia serta tempat mengembangkan kebudayaan itu. Kebudayaan lahir di tengah-tengah masyarakat, sebab manusia yang melahirkan kebudayaan itu hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, kebudayaan tidak akan berkembang kalau tidak di dukung oleh masyarakat.

Kebudayaan tanpa masyarakat, tidak akan ada. Tetapi adakah masyarakat yang tidak berkebudayaan? Walaupun bagaimana sederhananya susunan daripada masyarakat, pasti masyarakat itu mempunyai kebudayaan. Tidak ada masyarakat yang tidak berkebudayaan, sekalipun ia masyarakat primitif namanya. Mengenai tinggi rendahnya sesuatu kebudayaan, itu adalah masalah lain. Di sini jelas sekali betapa eratnya hubungan antara masyarakat dan kebudayaan itu.

Post a Comment for "Kebudayaan: Pengertian, Faktor, Pembagian, Alat, dan Cara berkembang"